kenapa literasi indonesia rendah
Rabu, 10 Jumadil Awal 1446 H/ 13 November 2024 M, 20.08
Entah kenapa malam ini ingin menulis, dan tersadar bahwa hari ini tepat 101 postingan blog debuhikmah, alamatnya debuhikmah.blogspot.com dan dari awal terbentuknya blog ini sampai dengan postingan ke 101 ini masih belum menyangka bahwa bisa sampai pada tulisan hari ini, debuhiter sangat tidak menyangka bisa bertahan menulis walaupun dengan keadaan seadanya, tulisan yang asal ketik dan memang tidak ada niche yang jelas kaya banyak youtober blog bilang seperti blog gado-dago segala di campur yang penting jadi. Yah biarpun isi blognya gado-gado silangkan debuhider search mandiri saja ya isi blognya, mudah-mudahan saja ada yang nyantol pembahasannya jadi mengena dan bermakan sehingga isi pesan nama blog ini bisa sampai ke pembaca yaitu debuhikmah.
Bicara mengenai debuhider dan debuhiter, takutnya ada yang belum paham dengan dua istilah ini, sebenarnya dua-duanya hanya karangan penulis saja, debuhider itu merujuk pada para pembaca yang terhormat, jadi debuhider itu singakatan untuk debu hikmah reader gak tahu apakah bahasa inggris nya benar atau salah pokoknya para pembaca blog debu hikmah, sedangakan debuhiter itu penulisnya, yaitu penulis sendiri debu hikmah writer.
Menulis itu sudah seperti mencurahkan pengalaman dan kejadian sehari-hari melalui bahasa tulis, seperti halnya vlogger yang menceritakan kejadian dan pengalamannya melalui bahasa lisan dan visual. Membaca itu di tahun 2024 seperti hal yang kuno, tidak zamani, orang sudah lebih senang melihat video, visual yang bergerak dan tuturan pembawaan yang mengalir, tapi membaca itu sangat berbeda, itu merupakan sebuah kesadaran, selintas lebih berat, dan cape, debuhiter juga kalau baca suka bosen, makanya kalau membaca , hanya bagian-bagian inti dan pentingnya saja. Tapi, kegiatan membaca cepat dan selintas, sangat efektif waktu cuman pasti ada kekurangannya, dan debuhiter belum tahu apa kekurangannya, karena keterbatasan pemahaman penulis yang belum expert dalam menjelaskannya.
Walaupun membaca merupakan kemampuan kuno yang sudah sedemikian ditinggalkan, membaca dan tulisan tetap adalah pondasi utama, debuhiter pikir membaca tetap akan lestari, dan tidak akan ditinggalkan manusia, apalagi membaca juga bernilai pahala, seperti membaca AL QURAN contohnya, jadi biarpun membaca membosankan, sebenarnya ada beberapa jenis bacaan yang bermanfaat tidak hanya didunia tapi juga untuk akhirat.
Debuhiter juga sedang sibuk dengan kegiatan kegiatan ujian di madrasah, yang isinya asesmen asesmen yang mendorong literasi siswa, literasi siswa walaupun mungkin bagi sebagian orang bukan soal membaca saja, juga soal pemahaman, tapi pondasi dan dasarnya adalah gemar membaca, berapa katakah tergantung kemampuan masing-masing, dari soal-soal selintas yang debuhiter baca antara 400-500 kata, artinya dibawah 400 kata yang kita baca, terus muncul bosan dan tidak kuat lagi menyelesaikan bacaan maka mungkin dalam tanda kutip lemah dalam literasi, malam membaca, jangan kan bisa memahami isi teks nya, menyelesaikan bacaan saja susah.
Apalagi dunia internet sekarang lebih condong pada penyebaran tulisan sederhana, bisa dibayangkan, sebagai pengguna, acap kali lebih senang melihat postingan-postingan yang sederhana tidak banyak kata, singkat, dan yang penting ngena, quote-quote itu ditulis tidak lebih dari 5 baris, bahkan kalau lebih dari itu pembaca akan tidak tertarik. dan gawatnya lagi didukung dengan algritma-algoritma yang akan lebih banyak memunculkan jenis-jenis postingan pendek, berkenaan dengan iklan dan selera pasar, sehingga tulisan-tulisan panjang akan berakhir menjadi sesuatu yang tidak laku dna ditinggalkan.
Namun, dibalik pembuangan-pembuangan yang didukung pula oleh bangsa pasar, serta didesak oleh ekonomi yang mau tidak mau harus jadi tumpuan akhir setiap hal didunia ini, keterampilan primitif ini juga bukan lah barang rongsok yang akan begitu saja di tinggalkan, mungkin bisa jadi penulis sendiri harus terus banyak membaca, pembaca semua harus banyak membaca, karena pemahaman yang sempurna tidak bisa di temukan dalam sekali gus. Jadi teringat pesan yang disampaikan oleh penulis buku yang lupa lai judul bukunya, didalamnya di sampaikan bahwa para ulama terdahulu tidak bosan bosan dalam mengulang-ulang bacaan bukunya, karena katanya setiap satu balikan beliau menamatkan bacaan, dan bertambah lagi pemahaman baru yang didapat dari bacaan yang sama.

Komentar
Posting Komentar