Trust issue pada genarasi kita saat ini
Senin, 25 November 2024/ 23 Jumadil Awwal 1445 H (18.22)
Selamat hari guru 2024 dimanapun para guru semuanya berada. Yang masih ada maupun yang telah tiadas semoga semua guru senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT. Banyak sekali beragam hal yang diangkat di media sosial yang mengangkat tema tema tentang para pendidik yang telah dengan segala kekuatan dan keterbatasannya mengamalkan ilmunya di semua lembaga pendidikan di indonesia. Dan dari kejadian-kejadian itu kita belajar banyak hikmah dan pelajaran berharga baik bagi para guru maupun para orang tua, senantiasa seharusnya kita menghormati para guru kita, serta sebagai orang tua ataupun siswa kita pun senantiasa bertenggang rasa bahu membahu memikul beban pendidikan bagi generasi penerus kita, karena pendidikan itu selalu didukung oleh dua faktor utama yaitu orang tua dan para guru. Apalagi masalah pendidikan sekarang ini sudah semakin kompleks, dimana zaman yang terus maju ditambah lagi informasi yang semakin menyebar melalu dunia maya semakin menyadarkan kita bahwa dunia ini benar-benar harus di tanggapi dengan sangat serius pengaruhnya bagi generasi bangsa selanjutnya.
Debuhiter ketika sekolah dulu pernah belajar mengenai globalisasi dan dampaknya bagi generasi berikutnya, dimana didalamnya disinggung akan bahaya masuknya budaya luar yang tanpa saringan mempengaruhi orang muda. Dan setelah sekitar dua puluh tahun berlalu hal tersebut kian nyata ada didepan mata, kadang debuhiter selalu hawatir, akan masa masa yang akan datang dengan apa yang akan terpengaruh untuk generasi selanjutnya akan seperti apa, melihat banyak sekali filter-filter yang sudah diwanti-wanti sejak dulu itu kian memudar keberadaanya, coba saja debuhider perhatikan apakah betul adanya batasan batasan budaya luar itu untuk masuk ke lingkungan terdekat kita saja, yaitu keluaraga? Menurut so nya penulis benar-benar filter tersebut amatlah tipis dan rapuh keberadaanya, biarpun begitu penyaring tersebut haruslah terus istiqomah untuk dipertahankan.
Mari kita muhasabah bersama, sudah berapa banyak diantara lingkungan terdekat kita yang gemar mengaji, gemar menemui para ulama, rajin menuntut pengajaran dari para guru-guru yang sudah disebut-sebut diawal tulisan ini, bukankah dapat kita hitung berapa dari anak-anak dilingkungan kita yang sudah dapat dihitung jari belajar iqro.
Bukankah orang gemar mengaji itu kini kian berkurang, bertambah sedikit saja usianya, berkurang sedikit rasa ingin mengajinya, kira-kira begitulah kenyataannya, sementara filter itu semakin menipis, dan menipis, dan filter itu bernama lingkungan yang saling menguatkan, yang mengajak generasi kita untuk solid dalam pergaulan dan gemar dan tidak menjauh dari agama islam, din yang sudah sejak dari kecil kina yakini keberadaannya sebagai agama yang akan menyelematkan kita di akhirat, lalu lambat laun kina sedikit demi sedikit mengikisnya, teladan-teladan yang dahulu memotivasi kita, satu persatu pun telah berguguran, kita tidak tahu lagi, lebih tepatnya kehilangan sosok sosok panutan, krisis itu pun semakin diperparah dengan istilah keren sekarang ini trust issue. Kita dimakan media, termakan isu-isu yang semakin mempertipis kita pada penyaring kita untuk generasi kedepan, oh begitu kangen sebenarnya debuhiter akan suasana mengaji dahulu, dan kita sama-sama berjuang hari ini memperbaiki keimanan yang sedikit-demi sedikit mulai terkikis oleh waktu, oleh pikiran-pikiran kita sendiri.
Atau betapa mirisnya kita, yang sekarang menyaksikan betapa banyak diantara kita yang mulai melalaikan shalat, serasa bahwa shalat bisa disambil lalukan, debuhiter tak pernah percaya sebelumnya pada perkataan orang, tentang orang-orang yang sedikit menyepelekan dengan shalat, lalu setelah masuk kedunia pekerjaan, semakin luas lingkungan pergaulan, ternyata perkataan tersebut nyata. Dan mungkin kita sendiri menyadarinya, betapa sekarang ini kita sulit melangkahkan kaki untuk pergi ke air mengambil wudhu, mau tidak mau penyaring generasi selanjutnya itu sudah mulai mengikis, penyaring terakhir itu bernama diri kita masing-masing.

Komentar
Posting Komentar