Resolusi AKhir Tahun 2024, menyongsong 2025

 Diantara nikmat terbesar seorang manusia adalah waktu dan kesempatan

Kelalaian seorang manusia di dunia tidak ada yang melebihi kelalaian seseorang dengan waktu, masih banyak orang yang tersadar bila dilalaikan oleh benda-benda, namun waktu melalaikan manusia dengan begitu halus dan tanpa disadari. Masih bisa dirasakan dalam benak masing-masing kita, saat pertama kali duduk di bangku sekolah dasar, saat orang tua kita mengantarkan dipintu-pintu gerbang, ditahun 2000-an mungkin bukan lagi hayalan kalau sekolah itu tidak bergerbang, dan saking teringatnya, kita dihantarkan oleh saudara-saudara kita yang masih satu sekolah. Berseling waktu berjalan, sudah 30 tahun, namun pertanyaan kadang terbesit, betulkah besok sudah kita lewati perjalan separuh hidup, dan apakah sudah betul langkah yang diambil, dan sudah sampai mana posisi kita diantara orang-orang sekitar kita?

Saat jatah hidup sudah tidak banyak lagi, dan ekspektasi kita lambat laun menjadi realita-realita yang harus di telan, membuat lintasan-lintasan peristiwa baru, yang perlu kemudian diperbaharui dan memperbaharui langkah. Tentang dasar-dasar dalam berpijak, benar sudah percakapansahabat dengan Khalifah Umar Bin Khatab, saat seorang bertakwa ibarat berjalan diantara duri-duri, penuh kehati-hatian, rasa takut untuk melangkah, agar tidak ada satu duri yang menancap di telap kaki. Kehati-hatian dalam mengarungi bahtera kehidupan yang membuat kita sampai pada titik sekarang ini. Titik akhir dan awal, saat tersadar mulai lah pikiran ini terbangun, dan berhentilah kebuntuan yang selama ini membuntuti.

Kita masih terus berproses disepanjang hamparan sajadah waktu, titian setiap hari yang semakin memanjang mengikuti arus kehidupan, berubah seiring manusia terus berinteraksi, kaidah-kaidah yang sudah diyakini kebenarannya berubah dan kemudian menemukan sosok baru, dan setiap langkah perubahan itu harus tetap berpijak pada kaki yang teguh dengan satu kata yaitu IKHLAS.

Kita tidak bisa menyalahkan betapa waktu merubah kita seperti sekarang ini, tetapi keikhlasn tetap menjadi batu pijakan seorang hamba. Zaman semakin berkembang, teknologi semakin maju, dan keihlasan itu menjadi suatu hal yang kabur, seperti terutup oleh hal yang tidak jelas. Dan ketidak jelasan itu terus membuat kita berpikir tentang hakikat ikhlas yang sebenarnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah ikhlas itu selalu berbarengan dengan amal, tidak ada keikhlasan bila tidak ada perbuatan, seorang akan memilih jalan dipersimpangan keputusan, bahwa keihklasan harus diejawantahkan dalam perbuatan, perbuatan yang sesuai dengan zamannya. Tidak lagi keikhlasan itu selalu berhubungan dengan bertafakur merenung dan menjauhi kerumunan manusia, dan terbelenggu mematung disudut sudut surau, lalu mematung memikirkan betpa banyak waktu telah berlalu, tapi keihlasan ada dalam tindakan yang nyata. Sudah sepatutnya bahwa kita harus berjalan mengikuti zaman, tidak lagi terkukung.

Setelah keikhlasan itu hadir lalu sejurus kemudian di ejawantahkan dalam tindakan dan atas dasar keberanian, keberanian ini ada saat seorang telah selesai dengan konflik batiniyahnya, keputusan keputusan yang hadir atas timbang-menimbang, akar kekeliruan dan memperhatikan begitu banyak hal yang lebih bermanfaat yang bisa di lakukan. Keberanian hadir dari hasil pertimbangan yang berproses, tidak sebentar, ia kembali menjadi tujuan seseorang, yang berpijak pada keihlasan, untuk menabur kebermanfaatan, semoga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB X - 1

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB XI - 1 & 2 (SEBELAS SATU DAN DUA)