Dua Sifat yang Hilang dari Masyarakat Moderen

 Dua Sifat yang Hilang dari Masyarakat Moderen

 


Waktu adalah sesuatu yang tidak akan kembali, jika sudah berjalan maju, apa yang tertinggal pasti terlewatkan, tidak bisa diulang. Waktu juka terus maju, tidak ada yang bisa menghentikan peredarannya, satu keniscayaan bahwa siap tidak siap kita pasti akan tetap berjalan maju mengikuti arus waktu. Tinggal kita mau apa saat waktu membawa kita maju, mau tertinggal atau mengisinya dengan perkara baik. Selain kesempatan, waktu juga membawa manusia mengikuti pada perubahan, perubahan tidak bisa di tolak, sama seperti hal nya waktu, perubahan jadi dua paket yang akan terus bersama-sama berjalan, siap maupun tidak, perubahan akan mendekati kita. Zaman dan generasi yang datang membawa perubahan baik pola pikir atau pun keyakinan akan sesuatu, seiring waktu maju, perubahan adalah akibat yang timbul atas kebutuhan manusia untuk beradaftasi pada kehidupan baru.

Kecenderungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan zamannya, memaksa harus mengikuti trendnya. Baik disadari ataupun tidak, trend tersebut ada yang baik maupun tidak. Kehati-hatian kita harus ditanamkan dalam diri masing-masing, karena dampak yang ditimbulkan bisa bersifat baik atau bahkan buruk. Kehati-hatian yang perlu menjadi perhatian terutama bagi kita dalam beriringan dengan generasi kedepan diantaranya

 

Pandanglah mereka yang dibawah dalam urusan dunia

 

Teknologi dan informasi pada generasi kedepan semakin pesat, perkembangan Arificial Intelegence yang dipadukan dengan media sosial, memberikan kemudahan bagi konsumennya untuk lebih menyesuakan setiap konten dengan latar belakang penggunanya. Algoritma semakin disempurnakan dengan bantuan AI, setiap konten semakin menarik bagi kita selaku Netizen. Tidak lagi ada bendungan yang mempu menahan arusnya akibat yang ditimbulkan teknologi. Media sosial juga di suguhi dengan konten yang semakin menarik secara penampilan, namun intisari kehidupan nya semakin terkikis. Satu dari sekian banyak dampak nya adalah kecendrungan orang untuk lebih materialistis, materi adalah segalanya, yang mempu membayar segala yang tidak menyenangkan.

Para pengguna media semakin ditawari oleh pemikiran baru, Algoritma pun seperti semakin menambah keyakinan dengan menyuguhkan konten yang semakin sesuai, harta dan besarnya uang yang diterima menjadi tujuan yang ingin dicapai. Padahal pesan yang sering kita dengar diwaktu muda, pandanglah dalam urusan agama orang yang lebih tinggi dari kita, sementara dalam urusan dunia kita harus memandang pada orang yang dibawah kita, sehingga kita banyak bersyukurnya dari pada mengeluhnya. Jika kita memandang pada yang lebih tinggi, maka yang muncul rasa iri dan sedikit bersyukur. Jika orang yang memiliki mobil tentu akan bersyukur karena masih banyak yang menggunakan motor, serta pengendara motor tentu akan lebih bersyukur karena banyak orang yang masih harus berjalan untuk bepergian.

 

Kesederhanaan adalah kunci

 

Bermewah mewahan sejak dahulu adalah standar yang diinginkan manusia, bermegah dalam memiliki rumah. Padahal dari dulu kakek kita dan orang tua kita mengajarkan untuk sederhana dalam berprilaku. Sederhana bukan berarti serba kekurangan, serba kesulitan, kesederhanaan adalah keseimbangan, tidak terlalu mewah maupun tidak terlalu kekurangan. Pandai menakar dan seimbang dalam memposisikan diri.

Kesederhaan tidak berat maupun ringan, sesuai batas kewajaran. Coba perhatikan bagaimana kesederhanaan sebenarnya melekat dalam kejadian disekeliling kita. Kesederhaan pun timbul atas cara pandang kita dengan kehidupan. Kesederhaan tumbuhan dalam menyerap air sesuai kebutuhan, karena jika terlalu banyak juga tidak baik bagi pertumbuhannya. Kesederhanaan pula yang akan menjadi benteng manusia dari bersikap berlebihan yang justru akan menjerumuskan dirinya pada kerugian.

 

Dua prinsip diatas adalah hal yang banyak dilupakan manusia zaman sekarang, padahal dua sikap tersebut yang banyak dicontohkan oleh orang-orang besar terdahulu, kesederhanaan para pahlawan perjuangan itu lebih terkenal, dari pada sikap bermewah-mewah, dan tidak pernah terdengar sama sekali. Kesederhaan pulalah yang menjadi identitas bangsa indonesia, kita bukan negara miskin insyaallah pun tidak juga mengelu-elukan diri, karena kesederhanaan dalam berpikir, bersikap dan berkehidupan adalah nafas yang berhembus dari ciri masyarakat kita.

 https://web.facebook.com/share/1Gz43ropWD/

https://x.com/debuhikmah/status/1877342622806630729

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB X - 1

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB XI - 1 & 2 (SEBELAS SATU DAN DUA)