Patah Tulang Itu Ujian Kesabaran
Berbicara mengenai penyakit yang di derita oleh setiap orang tentu tidak akan ada kata usainya, Sakit dan Penyakit dua kata yang akan senantiasa akrab dengan manusia. Bahkan tidak mungkin ada orang yang belum pernah di landa dengan sakit. Dari yang masih anak-anak sampai orang dewasa punya keluhannya masing-masing. Sakit bisa yang ringan sampai yang berat, gatal misalnya ada gatal ringan seperti gatal dan bentol biasa sampai yang berat seperti eksim juga bisul. Semuanya disebarkan kepada makhluk di muka Bumi oleh Allah SWT tentu dengan maksud dan tujuan yang hanya di ketahui oleh Allah SWT.
Penyakit yang menimpa setiap orang tentu berbeda jenisnya, serta berbeda juga asal mulanya. Saat pertama kita memeriksakan diri ke Dokter, pasti akan ditanya, apa keluhannya sudah berapa lama dirasakan. Apa yang dirasakan. Semua itu cara Dokter melakukan diagnosa awal penyakit. Sakit pada hakikatnya atas kehendak Allah SWT kepada setiap hambanya, namun dibalik itu ada juga musabab awal, seperti orang yang sakit perut karena banyak makan sambel yang pedas sampai level 9. Jadi Sudah pasti jangan salahkan orang lain kalau bolak balik ke Toilet buang air.
Salah satu jenis penyakit yang datang karena musibah adalah Patah Tulang. Kita tidak tahu kapan waktunya dimana tempatnya musibah menimpa kita. Orang yang mengalami musibah hanya bisa pasrah mengetahui dirinya tertimpa kemalangan sesaat setelah waktunya tiba. Dengan penuh kepasrahan disanalah semua pembelajaran dan pemahaman menjadi bentuknya, dengan segala ketundukan akan takdir dan Iradat Allah yang tertulis bagi dirinya. Membenarkan firman-Nya dalam surat At-Thagobun ayat : 11 yang artinya:
“Tidaklah suatu perkara yang ditimpakan, kecuali atas kehendak (idzin) Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah tentu hatinya akan mendapatkan petunjuk, Dan Allah mengetahui atas segala sesuati”
Tentu dengan meresapi makna dari ayat tersebut akan menentramkan hati dan pikiran yang kacau dikala dilanda musibah. Sebagaimana pikiran seorang yang tertimpa dengan suatu kejadian yang mengagetkan akan mudah kacau dan kendali pikirannya sulit untuk di arahkan. Mulailah muncul dibenaknya sangkaan-sangkaan yang kotor kepada pencipta-Nya, padahal sebagaiman ayat diatas bahwa ketatapan segala sesuatu itu adalah Hak (Nyata) adanya, dan tentu Allah telah mengetahui, kapan waktunya, dimana tempatnya, sedang apa bersama siapa, dan skenario tersebut sudah ada catatannya. Sehingga sepatutnya kita hanya bisa menyerahkan kembali segala urusan dan hakikatnya kepada Allah semata.
Bukan berarti akan menyepelekan semua jenis penyakit, dan memukul rata, bukan pula membanding-bandingkan mana yang lebih parah. Melainkan sebagai bentuk rasa syukur dan mentadaburi hikmah dari setiap kejadian, salah satu musibah yang menimpa berupa patah tulang, adalah ujian kesabaran. Mengapa demikian?
Fase Awal Kejadian
Sebagaimana dijelaskan diawal, pengetahuan akan waktu kejadian menjadi luput dari keterbatasan kita. Musibah yang menimpa, tidak tahu kapan, bahkan tidak dapat diprediksi waktunya. Karena itu adalah rahasia Allah, dimana suatu ketetapan di jadikan, tidak ada yang mampu menggeser waktunya kebelakang, ataupun dimajukan. Semua sudah sesuai dengan kadar dan kemampuannya. Bahkan mungkin ada sisi lain yang ingin dijadikan pesan tersembunyi dibalik waktunya.
Sebagaimana rangkaian Allah menetapkan Ramadhan sebagai bulan yang sempurna, dan mengapa Al Quran di turunkan didalamnya, serta Lailatul Qadar di berikan posisi di bulan tersebut, tentu ada makna-makna yang tersirat, yang semakin menguatkan bagaiman Ramdhan di tetapkan sebagai bulan kemulyaan. Raja semua bulan. Bila kita menarik sedikit benang merah, mengapa musibah itu terjadi di Bulan Ini, ketika Jam-nya menunjuka pukul sekian. Tentu ada pesan-pesan tersirat didalamnya, dan makna-makna tersebut pada awal kejadian adalah hal yang rumit untuk ditelaah. Dalam fase awal kita akan merasakan kesedihan yang mendalam namun lambat laun penerimaan dan penguatan akan kehendak dan takdir sedikit demi sedikit akan terbentuk.
Ketika pertama kali terjadi, hal pertama yang harus ditanamkan adalah mengendalikan kepanikan. Panik adalah pemburuk ulung. Panik tidak sedikit menyebabkan semuanya lebih buruk. Tenang dalam semua kondisi serta pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah. Serta menyadari bahwa penyakit adalah salah satu ujian serta cobaan, dalam sebuah hadist yang tercatat dalam (At-Targhib fi Fadailil Amal Halaman 397) Rasullah SAW bersabda:
“Jika ada hamba beriman sakit Allah mewahyukan kepada Malaikat agar mencatat pahala amalnya sebagaimana amalnya ketika dalam keadaan sehat”
Sementara dalam hadist lainnya Riwayat Al Qadla’I dalam Ihya Ulumudin Juz 4 Halaman 288, yang artinya sakit sehari sama dengan melebur dosa setahun. Sakit adalah ujian dan cobaan serta peringatan sudah sepatutnya kita bersabar dalam menjalaninya. Dan Hakikatnya Allah lah yang dapat memberikan kesembuhan, karena salah satu sifat Allah dalam Asma’ul Husna adalah Yang Maha Memberi Kesembuhan. Semua orang tentu pernah dilanda sakit, sebagaimana para Nabi Allah pun ada yang diberikan ujian berupa sakit, Nabi Ayyub A.S dikisahkan dalam surat Al-Anbiya ayat 82, diberikan cobaan yang begitu berat, Berupa sakit, namun dengan kesabaran-nya Allah berikan kesembuhan. Nabi Ayyub berdoa:
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Tuhan yang maha penyayang”
Fase Proses Perbaikan
Pada pase ini kita sudah agak sedikit tenang, segala kejadian sudah ditangani, mulailah kita menyadari bahwa patah tulang itu adalah kejadian yang membuat seorang lemah. Tubuh yang sebelumnya kita banggakan karna gegap, kaki yang kita gunakan untuk berjalan tanpa masalah sedikitpun mulai kita sadari melemah. Sebagaiman Firman Allah dalam surat Ar-rum ayat 54:
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu daru keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kelemahan itu menjadi kuat, kmudian Dia menjadikan mu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang maha mengetahui dan maha kuasa”
Dengun menjadinya kita limah, kita sadar dan memohon kepada Allah untuk di kuatkan. Saat lemah itulah ketidak berdayaan itu menyadarkan kita akan bantuan orang lain, makan dan minum yang kala sehat kita lakukan mandiri, saat sakit kita perlu dengan bantuan dan uluran yang ada disekitar. Disaat lemah itupula kita akan sadar akan indahnya bantuan dari orang lain, serta kasih sayang dari saudara-saudara kita. Keluarga kita yang dengan tulus mengurusi kelemahan kita. Sehingga jelas mengapa kita mengutamakan keluarga itu memang penting adanya, terlepas dari kolusi maupun antrek istilah lainnya, namun saat sedang lemah memang orang yang akan pertama kali mengulurkan tangan adalah yang terdekat dengan kita. Berbaik-baiklah dengan semua anggota keluarga, karena yang pertama kali mengulurkan tangan bukan kerabat kerja, bukan juga pejabat, tapi mereka yang bersaudara dengan anda.
Fase Pemulihan Kembali
Menurut pemikiran saya sendiri, proses pemulihan adalah proses yang paling berat. Mengapa demikian? Bukan-kah dengan menjadi sehat kembali membuat tubuh bisa bergerak kembali, bisa beraktivitas kembali. Jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, Segala Puji Bagi Allah yang telah mengembalikan kembali kekuatan yang sebelumnya dicabut, nikmat tersebut perlahan di kembalikan. Dan ujian terberatnya adalah keistiqomahan untuk menjaga ketulusan hati yang sebelumnya di ujikan, karena saat sehat terkadang manusia lupa bagaimana ia berdoa ketika sakit, bagaiman lemahnya dirinya ketika kekuatannya Allah cabut, yang justru menjadikan dirinya kembali kepada kesombongan Awal.
Dengan sakita yang diberikan Allah adalah peringatan, pelajaran, serta ujian agar senantiasa menjadi hamba yang sabar dan bertawakal kepada-Nya. Wallahu’alam bishowab

Komentar
Posting Komentar