JUJUR SAJA KITA SEMUA TIDAK MENYUKAI POLUSI


Selasa, 10 Rajab 1447 H/ 30 Desember 2025 M, 05:26 WIB

Pagi itu seperti biasa penulis mencari alat penyemprot yang baru beberapa hari di beli dari keranjang shopee. Alat seharga 140 lebih ini sudah dicoba dan berfungsi baik, seperti kebanyakan dari kita, kalau baru pertama mendapatkan satu barang akan lebih sering di coba, seperti itu juga penulis sudah dua kali dalam sehari ini, mencuci motor. Namun sayang, harga menjelaskan bagaimana kita mendapatkan hasil, dari beberapa komentar penilaiannya, sebenarnya penulis juga sudah sadar diri, hasil cucian dengan alat ini tak akan bisa menyaingi jetcleaner seharga jutaan rupiah, atau minimalnya menyaingi amang-amang stem. 

Kalau keseringan kita cuci motor, sedikit-sedikit kotorannya memang terangkat, dan lebih banyak sisa nya yang belum terangkat, namun kalau kita pikir ulang, semakin sering dicuci motor juga tidak akan sama dengan yang motor kita 2 minggu yang lalu, yang kondisinya jauh lebih tidak sebersih sekarang. Bayangkan bagaimana pasir yang berasal dari air kubangan bercampur pasir yang diaduk dengan kombinasi hujan lebat yang mengguyur berhari-hari inilah yang mengering dibagian dalam motor, menjadi plak-palak tebal, penulis pernah mencoba menyalakan motor saat kondisi kering, baru dua menit dinyalakan sepertinya kotoran pasir yang menumpuk dibawah motor ini adalah kikisan kotoran yang terjatuh akibat getaran motor.

Kita semua jujur mencintai kebersihan, dan hampir karena motor kita ini jarang dicuci, kita lebih sering melihat motor yang kotor ini dengan ungakapan pamungkas "Masih ada yang lebih kotor heh". Padahal mencuci di steam sebenarnya lebih bersih, namun penulis lebih nyaman kalau dicuci sendiri, selain mengirit biaya dan ongkos, mencuci sendiri motor kita akan lebih banyak waktu untuk membersihkannya, walaupun alasan utamanya karena gak mau lama-lama di tempat steam. Alasan kedua karena malas keluar rumah. Aneh kenapa sebelum kita punya motor kita membayangkan kalau setiap hari kita akan lebih rajin keluar rumah, disuruh belanja apapun bisa okelah. Tapi nyatanya malah kebalikannya bukan?.

Debu yang menempel di motor dan kita biarkan dengan penuh kesadaran lama-lama akan menjadi lebih tebal, keestetisan kedaraan nya menjadi sedikit berkurang, menurut beberapa orang katanya kurang sedap dipandang. Menurut penulis sedap-sedap saja. Alasan lainnya. Debu yang kita hasilkan adalah polusi, definisi polusi ternyata lebih banyak lagi, bahkan suara pun bisa menjadi polusi, sepertinya polusi adalah kelebihan yang kurang berfaedah, saat kita butuh air seember, dan saat kita tambahkan volumenya, kelebihan air yang meluber bisa diibaratkan sebagai polusi, namun polusi yang di maksud hanya sebagai analogi saja.

Polusi udara, polusi dari rumah tangga, apakah sampah juga bisa dikatakan sebagai polusi?. Jika sampah adalah polusi, maka debu yang kita senantiasa singkirkan di motor kita, adalah ibarat sampah yang kita buang sembarangan ke tanah. Dan saat sampah itu kita bersihkan kita suka kan dengan kebersihan?. Sama seperti orang yang menyetel musik di malam jam 1.0 dini hari, saat orang terlelap tidur. Suaranya bisa jadi polutan, dan kita mencintai keheningan karena saat tidur keheningan membuat kita terasa lebih pulas untuk tidur. Polusi ada untuk kita, menemani keseharian kita, polusi ibarat pelajaran bagi kita untuk lebih peduli pada kondisi sekitar kita.

Penangana sampah dan polusi akhir tahun 2025 ini masih menjadi urgensi, beberapa media memberitakan bagaimana kita menumpuk plastik yang tidak dapat ditampung lagi di pembuangan akhir, bayangkan jika satu minggu kita membuang berkarung sampah, dan jutaan orang di negeri kitapun mempunyai hajat yang sama, pantas saja tempat pembuangannya tidak cukup menampungnya. sedangkan menurut penuturan guru Biologi Penulis waktu SMA, butuh beberapa tahun untuk dapat terurai, dan kini hampir 10 tahun lebih semenjak mendengar kalimat itu, penulis masih menggunakan plastik, agaknya bagaimana mendaur ulangnya. Semoga ada solusi luar biasa mengenai penangan sampah ini ya. 

Kita tidak bisa membuang begitu saja ketergantunngan kita pada plastik, tidak bisa dipungkiri hampir semua peralatan yang kita gunakan adalah plastik, jangan menganggap palstik hanya wadah bunkus jajanan saja, manfaatnya masih lebih besar bagi kehidupan kita, namun coba bayangkan menurut informasi yang penulis dapatkan sekitar tahun 1850 an plastik di temukan artinya sudah 100 tahun lebih kita berdampingan denganya. Satu abad plastik ini hadir di bumi. Lalu bagaimana kedepannya, entah lah dunia akan semakin berkembang kita belum tahu bagaimana dan seperti apa, mungkin plastik ini akan berganti dengan yang lainnya. Wallahuallam bishowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB X - 1

PERTEMUAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB XI - 1 & 2 (SEBELAS SATU DAN DUA)