Menjalin Silturrahmi Pelajaran Liburan Tahun Baru 2025 dari Goal Para Sukabumi
Minggu, 08 Rajab 1447 H/ 28 Desember 2025: 15:59 WIB
Selamat sore pembaca debu hikmah, terimakasih sudah berkesempatan kembali mengunjungi blog debuhikmah. 8 Rajab 1447 H masih berjalan di sore hari minggu yang tenang, dengan cuaca dari pagi hari cerah, matahari memancar pukul 12.00 suhunya memanas. Tepat pukul empat sore gerimis turun membasahi tanah yang mulai menghangat karena tersinar matahari. Ini bulan Rajab masih di awal hari, mari sama-sama mempersiapkan diri dengan lebih baik, mumpung bulan ini belum terlewatkan, atau mungkin pertengahan bulannya belum selesai. Mengapa? Karena di awal bulan biasanya semangat berubahnya masih segar, masih di level anyar. Kalau di akhir bulan, seperti biasa, udah mulai kendor target-target bulanannya.
Minggu ini penulis ingin berbagi dengan pembaca semua tentang makna dan hikmah dari perjalanan penulis di hari sabtu kemarin mengunjungi salah satu tempat wisata di sukabumi tepatnya di Goal Para Tea Park Sukabumi. Sabtu kemarin kami sekeluarga bersama-sama mengendari sepeda motor dari Kadudampit menuju Goal Para tepat pukul 08 kurang. Bila di lihat dari peta jaraknya itu sekitar 19 KM.
dan berdasarkan perkiraan dari Google Map rute yang akan kami tempuh akan menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Dan dari hasil kami berkendara sepertinya tidak terlalu meleset karena, ketika kami sampai Goal Para Tea park belum di buka, artinya kami sampai tidak sampai pukul 09.00 pagi. Perjalanan menggunakan sepeda motor akan lebih terasa cepat, karena di sabtu pagi jalanan belum terlalu padat oleh kendaraan. Ditambah cuaca sabtu pagi itu, gerimis turun di pertengahan perjalanan kami saat melewati kantor desa Cisarua.
Disepanjang perjalanan menuju lokasi penulis sedikit terpikir, karena ternyata dari gunung kami akan mengunjungi gunung kembali. namun menuju tempat yang berbeda 19 KM. bagi sebagian orang mungkin terasa biasa saja, tapi bagi penulis itu cukup jauh apalagi ini kali pertama kami berjalan menggunkan motor untuk perjalanan 1 jam. Tapi alhamdulillah bisa sampai dengan selamat. Tiket masuk saat itu masih dalam promo akhir tahun. Saat masuk kami disambut dengan hujan pagi yang cukup lebat. Membuat dingin semakin menusuk di ketinggian. Kami menunggu sejenak sampai hujan sedikit mereda. Kira-kira tepat pukul 09.00 gerbang di buka, dan hujan sedikit mereda menyisakan sisa-sisa air hujan di tanah.
Selama perjalanan menuju goal para tea park ada beberapa momen yang membuat penulis terharu-haru. diantaranya
Akses Jalan Yang Sudah Lebih Terawat
Alhamdulillah selama perjalanan dari rumah hingga ke lokasi, perjalanan sudah mudah, walaupun disepanjang jalan di terpa gerimis tipis yang dingin, perjalanan tetap terasa nyaman, akses jalan bagus dan di sepanjang perjalanan bisa menemukan tempat untuk beli bensin, penjual bensin dapat lebih mudah ditemui sepanjang jalan, serta mushola dan masjid yang banyak ditemui, biasanya kalau mau ikut keair untuk hajat keperluan juga lebih mudah.
Pabrik Teh Goal Para Pusat Pengolahan Teh daerah sukabumi Utara
Sukabumi utara sebagaimana dikenal luas sebagai daerah dengan iklim yang sejuk, komoditas pertanian adalah yang paling utama menurut penuturan orang tua penulis, semua teh yang dipetik dari arah timur terutama kadudampit dan perbawati selabintana akan di bawa ke pusat pengolahan yang di Goal Para ini jadi ini punya nilai historis tersendiri. Banguananya memang masih terawat dan Bergaya klasik, penulis melihat pabrik tersebut beberapa meter sebelum sampai ke Goal Para Tea Park, tempatnya sejuk karena berada persih di bawah perbukitan, gaya-gaya sama seperti bangunan di daerah pondok halimun selabintana sukabumi.
Jarak yang Tidak memisahkan silaturahmi.
Sesampainya di Goal Para Tea Park, penulis tertegun-tegun mendengarkan cerita orang tua, yang mengatakan kalau dulu, kakek penulis biasa berjalan dari rumah sampai ke pabarik teh Goal Para ini dengan berjalan kaki. Hah berjalan kaki?
Penulis tertegun bagaimana orang tua dulu berjalan melewati bukit-bukit antara Cipetir di daerah Kadudampit sampai ke daerah Cisarua Goal Para ini, sambil menikmati hidangan di Goal Para Tea Park, ditemani hujan yang kembali jatuh, orang tua penulis kembali berceritanya, perjalan antara Cipetir dan Cisarua ini di lakukan dengan jalan kaki untuk tujuan bekerja, istilah nya orang dulu kuli jauh untuk mendapatkan pekerjaan buruh mencangkul, orang tua dulu rela meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaa/ buruh di daerah lain, dan itu tidak berangkan menggunakan motor seperti sekarang ini, melainkan berjalan kaki. Tidak heran mereka akan kembali ke kampung beberapa hari kemudian dengan hasil bekerja baik berupa upah uang maupun upah hasil, seperti mendapatkan beras.
Beberapa lintasan jalan nya sudah tidak dapat diakses kembali dikarenakan sudah jarang sekali orang yang menggunakan, dan mode transfortasi yang sudah semakin banyak, ada motor seperti yang kami lakukan. Namun sebenarnya dengan mengunjungi tempat untuk bekerja beberapa orang memang sengaja berkunjung untuk menengok saudaranya. Silaturahmi yang benar-benar terjaga walaupun belum ada kemudahan seperti HP jaman sekarang.
Menikmati ubi rebus dan jagung rebus
Sekarang dibagian ujung goal para sudah tersedia saung tempat makan juga, ada menu rebusannya juga, bisa dicoba bagi yang mau menikmati suasa pegunungan ditemani ubi rebus dan jagung rebus yang baru di angkat. Masyaallah

Komentar
Posting Komentar