Senin, 9 Rajab 1447 H/ 29 Desember 2025, 16:10 WIB
Selamat sore debuhider. Hampir sebagian besar waktu yang kita habiskan ketika datang kesuatu acara adalah menunggu. Saat acara akan di laksanakan pukul 08.30 dan baru dimulai pukul 10.00 itu berarti 90 menit dihabiskan untuk menunggu, jika acara selesai pukul 11.30 artinya 90 menit juga untuk acara. padahal idealnya kita menunggu paling ditolerir sekitar 20 menit, sayangnya masih banyak kita alami menunggu berjam-jam. Biasa mengulur waktu harus di hilangkan oleh semua, baik yang punya hajat acara ataupun peserta agar efektivitas menjadi budaya di masyarakat kita.
Seperti halnya budaya itu masih melekat diantara kita, pagi ini debuhiter berkesempatan memenuhi satu acara dan berdasarkan surat yang diterima acara itu akan dimulai delapan pagi, tapi tanpa di sangka, kita harus menunggu sekitar satu jam lebih, alhasil kami harus menunggu dengan beberapa orang lainya di teras tempat acara sambil menunggu peserta lainnya berdatangan. Sambil satu persatu motor peserta berdatangan memarkirkan kendaraannya di depan lapangan sebagian kami berkumpul dipojokan. Sambil duduk berjongkok khas asia, satu dari kami memulai pembicaraan, alhasil terjadilah apa yang disebut dalam bahasa sunda ngawangkong atau ngobrol dalam bahasa Indonesia.
Lumayan seru ya mendengar orang-orang sahut menyahut membuka obrolan, penulis hanya siap pasang telinga sambil sedikit mempersiapkan diri, tahu-tahu ada beberapa hal yang dapat kita ambil manfaatnya. Dari pembicaraan 90 menit itu ada beberapa hal yang penulis ingat dan kesan dari ingatan debuhiter.
Kadang ngawangkong itu di mulai dari titik paling sederhana yaitu nostalgia. Bisa berupa pekerjaan tempat tinggal sampai hobi. Menurut penuturan para
sesepuh kampung, salah satunya ada yang pernah menjadi anggota
calung, beliau sendiri
sesendu karena hampir tidak mudah menemukan hobinya tersebut berlanjut oleh anak-anak muda jaman ini. Sebagian bukan saja karena hilangnya semangat generasi penerus untuk membudayakan nya kembali, tapi juga hilangnya fasilitas.
Fasilitas acara ini dapat berwujud kesempatan yang juga pudar, fasilitas para budayawan menampilkan kebolehannya, katanya jarang sekali sekarang orang hajatan, yang ngundang calung. Tapi ada betulnya juga, penulis lebih sering mendengar hiburan
dangdutan dan
orgen tunggal hampir disetiap undangan hajatan di hampir waktu santap kondangan. Fasilitas seperti ini sepertinya juga dipengaruhi oleh besarnya biaya yang tidak murah juga untuk mengundang satu group ditampah peralatan yang juga tidak murah untuk perawatannya. Ngomongin calung biasanya nyambung juga dengan
pencar silat, entah bagaimana pembicaraan berseliwar jadi pencat silat, apa juga karena acara yang belum di mulai.
Sayangnya jam sudah menunjukan pukul 10.00 ceritanya terputus tidak bersambung, petugas membukakan pintu kami masuk dan kursi sudah berjajar, kami duduk ditempat yang paling nyaman menurut versi masing-masing, ah sudahlah kadang, mendengar banyak cerita dari orang-orang tua zaman dahulu terdengar nostalgic dan berkesan, bahkan bagi penulis yang hanya sebagai pendengar setia. Tidak banyak yang penulis bagikan dalam tulisan ini, karena hampir seluruhnya sudah terlupa, yang jelas mendengar sebagiannya cukup terkesan dan berkaca-kaca, betapa mudahnya kehidupan sekarang ini dari pada jaman dahulu.
Dari pembicaraan tersebut penulis terpikir ternyata tepat waktu itu sangat penting, bahkan untuk penulis sendiri, sekiranya penulis datang lebih akhir, tidak akan ada cerita dan pengalaman yang penulis dengar dari para sesepuh kampung ini, pantas bahwa semua yang tepat pada waktunya itu banyak keutamaannya, bahkan shalat pun dianjurkan pada waktunya, tidak mengakhirkannya. Oh ya sebagian dari para sesepuh ini ada
guru ngaji juga, dan dari beberapa kampung sebelah, Masyaallah jasa-jasa beliau ini lebih banyak dari penulis sendiri.
Komentar
Posting Komentar